Alasan Permainan Capit Boneka atau Claw Machine Haram: Ada Unsur Judi



Suara.com – Permainan capit boneka atau claw machine dinyatakan haram oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Purworejo.

Alasan keputusan ini adalah karena PCNU Purworejo mendalami adanya unsur judi di dalamnya. Capit boneka memang jadi salah satu pembahasan para pengurus PCNU Purworejo karena kian menjamur di wilayah terkait.

Salah satu anggota Tim Perumus Masalah KH Romli Hasan menyebut, permainan itu sangat disukai kalangan anak-anak. Karena, selain murah, permainan ini cukup membuat ketagihan akibat tantangan sekaligus hadiah boneka.

“Kita para ulama di NU tergerak untuk membahasnya, sehingga persoalannya menjadi jelas dan orang tua tidak lagi merasa was-was,” ujar KH Romli, dalam keterangan resminya di laman Nahdlatul Ulama Jawa Tengah.

Baca Juga:
Dianggap Berikan Ruang Lebar bagi Semua Agama di Inggris, Ratu Elizabeth II Cocok Disebut Teladan

Dalam bahtsu masail terkait, LBMNU Purworejo itu diawali dengan pembahasan masalah hingga akhirnya memutuskan hukum memainkan serta menyediakan permainan capit boneka.

“Hukum permainan capit boneka sebagaimana dalam deskripsi hukumnya tidak diperbolehkan atau haram karena mengandung unsur perjudian, sehingga hukum menyediakannya pun juga haram,” kata dia.

Hal ini lantaran di dalam permainan itu, ada penyeerahan harta yang menjadi syarat atau pembanding dari manfaat yang diterima pengguna. Namun, di dalamnya, ada spekulasi yang menyebabkan potensi judi.

Alasan di atas merujuk pada aqad ijarah atau praktik sewa menyewa, dengan keterangan, jika sang penyewa mengetahui ia akan gagal, maka tentu tidak akan mengikuti permainan.

“Orang tua atau wali harus melarang anaknya dengan cara menegur, menasehati, dan memberi pengertian untuk tidak mengikuti permainan tersebut, karena mengandung unsur perjudian yang dilarang agama,” ujar dia.

Baca Juga:
Berduka atas Wafatnya Ratu Elizabeth II, Nahdlatul Ulama Inggris: Sosok Ratu Adalah Orang dengan Kemuliaan

Dalam kesempatan, ini musahih dari pembahasan diantaranya KH Abdul Hadi, KH Mas’udi Yusuf, K Muhsin dan KH Asnawi. Sementara, KH Romli Hasan, KH Muhammad Ayub. K Mahsun Afandi, K Hanifuddin dan K Asnawi MA bertindak sebagai musahih.





Sumber : Suara.COM

Join The Discussion

Compare listings

Compare